Entah kenapa pagi kali ini hadir lebih awal.
Meski mimpiku tak tersusun indah seperti malam sebelumnya.
Aku masih duduk termenung memikirkan mimpiku yang indah itu.
Berharap bisa bertegur sapa dengannya.
Dalam balutan seragam sma ia hadir bak mahluk tak berdosa.
Yah, ia meninggalkanku tiga tahun yang lalu tanpa pamit pada seorangpun.
Tapi sedikit senyumnya yang tersungging dan menampakkan gigi ginsungnya sedikit mengobati kekesalanku.
Meski tak ingat pasti apa yang aku cakapkan bersamanya.
Sapaan has yang selalu aku ucapkan padamu tak lupa aku uacpkan.
"brengsek!!" dengan nada sedikit bertriak aku memanggilmu.
Kau hanya tersenyum, entah apa yang kau bicarakan, aku tak ingat jelas.
Yang aku ingat kau hadir bersama pelangi indah bersusun dua yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
Sedikit ketikan bodoh di minggu pagi desa matompi, 7.21 am 2013.06.30
fm24
Saturday, May 17, 2014
Diam
bukan hendak menggeser waktu tidurku
sebab mataku sudah terkantuk yang amat
bukan pula ingin menjemput pagi
karena diapun sudah hadir sedari tadi
kau mungkin sudah terlelap
lelah membujukku untuk tidur
nyanyian ninabobomu tetap seindah dulu
tak perlu tersinggung mengapa aku belum tertidur jua
aku, kau, kita, mereka berbenturan dengan waktu
ketika semua berhadapan dengan titik itu
kau juga mereka menyebutnya akhir
tapi bagiku ia tak seperti itu
ketengok kembali jam dinding
dia berusaha keras untuk terus berdetak
langkahnya sedikit sempoyongan
yahhh, baterainya sudah tua serta suak
ketika pagi datang
akan ku sambung sedikit cerita penutupku
sambil menunggu deretan bintang bepergian
ku coba untuk memutar ulang pita kusut jejak keberadakaanku
sebab mataku sudah terkantuk yang amat
bukan pula ingin menjemput pagi
karena diapun sudah hadir sedari tadi
kau mungkin sudah terlelap
lelah membujukku untuk tidur
nyanyian ninabobomu tetap seindah dulu
tak perlu tersinggung mengapa aku belum tertidur jua
aku, kau, kita, mereka berbenturan dengan waktu
ketika semua berhadapan dengan titik itu
kau juga mereka menyebutnya akhir
tapi bagiku ia tak seperti itu
ketengok kembali jam dinding
dia berusaha keras untuk terus berdetak
langkahnya sedikit sempoyongan
yahhh, baterainya sudah tua serta suak
ketika pagi datang
akan ku sambung sedikit cerita penutupku
sambil menunggu deretan bintang bepergian
ku coba untuk memutar ulang pita kusut jejak keberadakaanku
Pagi
aku tau persis berada di celah kosmos, dan aku sadar ini hanyalah rangkaian alam bawah sadarku. selalu seperti ini terbangun karena datangnya sang pagi. ah kalau saja ada yang bisa mengintervensi datangnya pagi aku akan sangat berterima kasih.
sang prima causa mungkin bisa mengintervensi, ah sepertinya bukan itu yang aku butuhkan. tidur pembalasan sepertinya menjadi satu-satunya opsi
sang prima causa mungkin bisa mengintervensi, ah sepertinya bukan itu yang aku butuhkan. tidur pembalasan sepertinya menjadi satu-satunya opsi
Pilu yang Menyebrang
Tegarlah, gadis kecilku yang beranjak anggun
Pertegas kembali keras inginmu untuknya mengubah
Kelak ia akan paham, perihmu berangsur tertata memudar
Di saat kau tetap terabaikan, aku tak hanya ingin berkomentar dari bangku sutradara
Gadis kecil, aku ingin menemanimu pulas
Tegaklah, jika perih tak mengijinkanmu terlentang
Pelangimu tak memudar, tamparlah ia dengan jujurmu
Semoga ia tersadar dari mimpi liarnya
Terlelaplah sebelum pekat malam berganti
Tubuh kecil itu, ah andai pelangi tau yang sebenarnya
Aku protagonis yang pengecut
Kalut oleh kisah yang kubuat
Pertegas kembali keras inginmu untuknya mengubah
Kelak ia akan paham, perihmu berangsur tertata memudar
Di saat kau tetap terabaikan, aku tak hanya ingin berkomentar dari bangku sutradara
Gadis kecil, aku ingin menemanimu pulas
Tegaklah, jika perih tak mengijinkanmu terlentang
Pelangimu tak memudar, tamparlah ia dengan jujurmu
Semoga ia tersadar dari mimpi liarnya
Terlelaplah sebelum pekat malam berganti
Tubuh kecil itu, ah andai pelangi tau yang sebenarnya
Aku protagonis yang pengecut
Kalut oleh kisah yang kubuat
Gadis Kecilku
Gadis kecil, aku baru mengerti apa yang mau kau sampaikan. Sudah 3.15 pagi, aku baru selesai membaca semua tulisanmu. Kulumat habis semua. Tak cukup mendalam, setidaknya aku paham garis besarnya. Untuk kali ini aku harus akui, air mataku hampir menetes membacanya. Bukan menghemat air mata, bagian diriku yang feminin masih punya sedikit ego untuk tak menumpahkan air mata. Bukan merasa kasihan padamu, huh kasihan rasa itu tak pantas untuk dilayangkan untukmu. Kasihan padamu berarti penghinaan. Dan lagipula aku sudah cukup “besar” untuk menangisimu karena kasihan, rasanya tak layak. Emosi, mungkin kata itu cukup mewakili kenapa air mataku tak betah di pelupuk mataku. Emosi karena hanya bisa menjadi pembaca di setiap kisahmu.
Tentang kita baru bermula di pengawal chat, terlalu cepat untuk sok mengerti. Mengerti cintamu yang tak jelas kepada pria tak jelas itu. Kisahmu tak perlu aku ulang di catatan bodoh ini. Biarkan yang membaca bingung. Catatan ini aku tulis memang terkhusus untukmu. Tak kau pahamipun tak apa, tapi setidaknya beritahu aku jika tulisan ini dibaca oleh kedua bola matamu.
Hidup tanpa status hubungan dengan satu wanitapun belum pernah aku alami. Bukan takut terhadap wanita, aku hanya ingin membiarkan ia bebas. Bebas berkeliaran di atas permukaan bumi. Prinsip itu cukup teguh aku pegang. Aku cukup dekat dengannya (baca tulisan: s/e), tapi aku tak mengikatnya dengan status. Kondisiku mungkin sedikit berbeda denganmu. Yang sama hanyalah kita berdua merasa sebagai obyek yang tersakiti. Yah, aku berperan sebagai pria yang mengharap sang wanita tanpa memberi sinyal. Sedang kau sebagai wanita yang mengharap si pria dengan memberi segala stimulus yang mungkin kau bisa. Sang wanita yang kuharap itu tiba-tiba saja menghilang, dan akhirnya aku tahu kalau dua sudah di pelukan pria barunya. Sang dokter. Ah tidak gadis kecil, aku tak memikirkan kalau dia oportunis, itu tak sedikitpun terbesit. Yang ku kecewakan sang wanita tak memberitahuku secara langsung.
Perkataanmu agar aku tidak buta hati baru aku pahami betul saat membaca catatanmu. Maksudmu agar aku lebih peka terhadap sekitarku. lebih bisa membaca segala pertanda yang coba diberikan untukku.
Meberi ikatan. Kata konyol yang walaupun diterima oleh otak warasku tapi prinsipku tetap menolaknya. Yah, mungkin salah ku tak mengikatnya dalam sebuah ikatan karena buta hati. Jujur aku dan sang wanita sudah cukup lama bersama, lebih lama dari yang kau jalani dengan tuan SDR. Tapi waktu bukanlah faktor yang mengikat seseorang bisa bertahan lebih lama untuk bersama. Yah, kali ini pesanmu agar aku memberi ikatan pasti pada wanita dapat aku pahami.
Terakhir untukmu gadis kecil, jangan pernah memanggil dirimu bodoh lagi. Bakatmu menulis harus ku akui jauh lebih indah dari yang bisa ku tulis. Darimu gadis kecil aku sekarang lebih berani memposting tulisanku. Gadis kecil suatu waktu aku ingin menenpatkan jari-jariku di antara sela-sela jari-jarimu. Berlari di bawah rintik hujan (seperti dengan pria kecilmu saat 30 oktober 2010) tapi tidak dengan air mata menghias wajah namun dengan tawa, tawa bahagia, bukan tawa hipokrit yang selalu kau lontarkan untuk tuan SDR. gadis kecil tergulai lemahlah, tak perlu berpura-lagi dinhadapan pelangi SAP milikmu lagi.
Tentang kita baru bermula di pengawal chat, terlalu cepat untuk sok mengerti. Mengerti cintamu yang tak jelas kepada pria tak jelas itu. Kisahmu tak perlu aku ulang di catatan bodoh ini. Biarkan yang membaca bingung. Catatan ini aku tulis memang terkhusus untukmu. Tak kau pahamipun tak apa, tapi setidaknya beritahu aku jika tulisan ini dibaca oleh kedua bola matamu.
Hidup tanpa status hubungan dengan satu wanitapun belum pernah aku alami. Bukan takut terhadap wanita, aku hanya ingin membiarkan ia bebas. Bebas berkeliaran di atas permukaan bumi. Prinsip itu cukup teguh aku pegang. Aku cukup dekat dengannya (baca tulisan: s/e), tapi aku tak mengikatnya dengan status. Kondisiku mungkin sedikit berbeda denganmu. Yang sama hanyalah kita berdua merasa sebagai obyek yang tersakiti. Yah, aku berperan sebagai pria yang mengharap sang wanita tanpa memberi sinyal. Sedang kau sebagai wanita yang mengharap si pria dengan memberi segala stimulus yang mungkin kau bisa. Sang wanita yang kuharap itu tiba-tiba saja menghilang, dan akhirnya aku tahu kalau dua sudah di pelukan pria barunya. Sang dokter. Ah tidak gadis kecil, aku tak memikirkan kalau dia oportunis, itu tak sedikitpun terbesit. Yang ku kecewakan sang wanita tak memberitahuku secara langsung.
Perkataanmu agar aku tidak buta hati baru aku pahami betul saat membaca catatanmu. Maksudmu agar aku lebih peka terhadap sekitarku. lebih bisa membaca segala pertanda yang coba diberikan untukku.
Meberi ikatan. Kata konyol yang walaupun diterima oleh otak warasku tapi prinsipku tetap menolaknya. Yah, mungkin salah ku tak mengikatnya dalam sebuah ikatan karena buta hati. Jujur aku dan sang wanita sudah cukup lama bersama, lebih lama dari yang kau jalani dengan tuan SDR. Tapi waktu bukanlah faktor yang mengikat seseorang bisa bertahan lebih lama untuk bersama. Yah, kali ini pesanmu agar aku memberi ikatan pasti pada wanita dapat aku pahami.
Terakhir untukmu gadis kecil, jangan pernah memanggil dirimu bodoh lagi. Bakatmu menulis harus ku akui jauh lebih indah dari yang bisa ku tulis. Darimu gadis kecil aku sekarang lebih berani memposting tulisanku. Gadis kecil suatu waktu aku ingin menenpatkan jari-jariku di antara sela-sela jari-jarimu. Berlari di bawah rintik hujan (seperti dengan pria kecilmu saat 30 oktober 2010) tapi tidak dengan air mata menghias wajah namun dengan tawa, tawa bahagia, bukan tawa hipokrit yang selalu kau lontarkan untuk tuan SDR. gadis kecil tergulai lemahlah, tak perlu berpura-lagi dinhadapan pelangi SAP milikmu lagi.
Dendam Sang Angin
Terhela napas memikul ketiadaan, berangan dengan bantal angan.
Teluk mimpi yang hampir tercapai menenun rupa mendung.
Melingkar simpul keterbatasan angkuh.
Tersudut bayang yang menhghibur.
Kupeluk erat pilumu, menidurkan pepatah goblok yang kau agungkan. Kita tak ada diantara satu.
Menjelmalah ragumu, aku mecari isi kepalamu yang lugas oleh lakumu.
Terhempas bebas dari jerahan sang pencuri mimpi.
Kaupun bukan angin yang mendendam karena mencumbunya.
Teluk mimpi yang hampir tercapai menenun rupa mendung.
Melingkar simpul keterbatasan angkuh.
Tersudut bayang yang menhghibur.
Kupeluk erat pilumu, menidurkan pepatah goblok yang kau agungkan. Kita tak ada diantara satu.
Menjelmalah ragumu, aku mecari isi kepalamu yang lugas oleh lakumu.
Terhempas bebas dari jerahan sang pencuri mimpi.
Kaupun bukan angin yang mendendam karena mencumbunya.
Subscribe to:
Posts (Atom)